Teori Belajar Robert Gagne
Robert
Gagne (1977; Gagne & Driscoll, 1988) adalah seorang ahli psikologi pendidikan yang telah
memperkenalkan berbagai pandangan tentang belajar, salah satunya tentang teori
pembelajaran yang didasarkan pada model pemrosesan informasi. Dalam memahami
belajar Gagne tidak memperhatikan apakah proses belajar terjadi melalui proses
penemuan (discovery) atau proses
penerimaan (reception) sebagaimana
yang dikenalkan oleh Brunner dan Ausubel, menurutnya yang terpenting adalah
kualitas, penetapan (daya simpan) dan kegunaan belajar.
Menurut
Gagne, belajar bukan merupakan proses tunggal, melainkan proses yang luas yang
dibentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku. Jadi tingkah laku itu
merupakan hasil dari efek kumulatif belajar. Artinya banyak keterampilan yang
telah dipelajari memberikan kemudahan bagi belajar keterampilan yang lebih
rumit. Contohnya keterampilan belajar “ menjumlahkan “ (tambahan) akan berguna
bagi siswa untuk belajar “ perkalian”. Siswa tidak perlu belajar menjumlah lagi
ketika belajar mengalikan. Belajar merupakan suatu proses yang kompleks, yang
menghasilkan berbagai macam tingkah laku yang berlainan yang disebut kapasitas.
Kapasitas itu diperoleh dari stimulus yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan siswa.
Berdasarkan pandangannya itu, gagne mendefinisikan pengertian belajar secara
formal bahwa belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat
stimulus dari lingkungan menjadi beberapa tahap pengolahan informasi yang
diperlukan untuk memperoleh kapasitas yang baru (Margaret G. Bell, 117-129).
Kapasitas
orang untuk belajar memungkinkan diperolehnya berbagai pola tingkah laku yang
hampir mirip. Berdasarkan pandangannya tentang belajar ini gagne menemukan
bahwa ada lima ragam belajar yang terjadi pada manusia, yaitu informasi verbal,
keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap dan siasat kognitif.
Robert gagne banyak menggunakan
materi matematika sebagai medium untuk menguji penerapan teorinya. Di dalam
teorinya Gagne juga mengemukakan suatu klasifikasi dari objek-objek yang
dipelajari di dalam matematika.
Menurut Gagne belajar matematika
terdiri dari objek langsung dan objek tak langsung. objek tak langsung antara
lain kemampuan menyelidiki, kemampuan memecahkan masalah, ketekunan,
ketelitian, disiplin diri, bersikap positif terhadap matematika. Sedangkan
objek tak langsung berupa fakta, keterampilan, konsep, dan prinsip.
Fakta adalah konvensi (kesepakatan)
dalam matematika seperti simbol-simbol matematika. Fakta bahwa 2 adalah simbol
untuk kata ”dua”, simbol untuk operasi penjumlahan adalah ”+” dan sinus suatu
nama yang diberikan untuk suatu fungsi trigonometri. Fakta dipelajari dengan cara
menghafal, latihan, dan permainan.
Keterampilan (Skill) adalah suatu prosedur atau
aturan untuk mendapatkan atau memperoleh suatu hasil tertentu. Contohnya,
keterampilan melakukan pembagian bilangan yang cukup besar, menjumlahkan
pecahan dan perkalian pecahan desimal. Para siswa dinyatakan telah memperoleh
keterampilan jika ia telah dapat menggunakan prosedur atau aturan yang ada
dengan cepat dan tepat. Keterampilan menunjukkan kemampuan memberikan jawaban
dengan cepat dan tepat.
Konsep adalah ide abstrak yang
memunkinkan seseorang untuk mengelompokkan suatu objek dan menerangkan apakah
objek tersebut merupakan contoh atau bukan contoh dari ide abstrak tersebut.
Contoh konsep himpunan, segitiga, kubus, lingkaran. Siswa dikatakan telah
mempelajari suatu konsep jika ia telah dapat membedakan contoh dan bukan
contoh. Untuk sampai ke tingkat tersebut, siswa harus dapat menunjukkan atribut
atau sifat-sifat khusus dari objek yang termasuk contoh dan yang bukan contoh.
Prinsip adalah pernyataan yang
memuat hubungan antara dua konsep atau lebih. Prinsip merupakan yang paling
abstrak dari objek matematika yang berupa sifat atau teorema. Contohnya,
teorema Pytagoras yaitu kuadrat hipotenusa pada segitiga siku-siku sama dengan
jumlah kuadrat dari dua sisi yang lain. Untuk mengerti teorema Pytagoras harus
mengetahui konsep segitiga siku-siku, sudut dan sisi. Seorang siswa dinyatakan
telah memahami prinsip jika ia dapat mengingat aturan, rumus, atau teorema yang
ada; dapat mengenal dan memahami konsep-konsep yang ada pada prinsip tersebut;
serta dapat menggunakannya pada situasi yang tepat.
Gagne juga memperkenalkan mengenai sembilan
tahap pengolahan (proses ) kognitif yang terjadi dalam belajar yang kemudian
disebut “ fase-fase belajar”. Fase-fase belajar ini kemudian digolongkan
kedalam 1) fase persiapan untuk belajar, 2) fase perolehan dan perbuatan, 3) alih belajar. Kesembilan tahapan (fase
belajar) ini harus dilakukan secara berurutan dan setiap tahap belajar perlu di
dukung oleh suatu peristiwa pembelajaran tertentu agar pada setiap fase belajar
menghasilkan aktivitas (proses belajar) yang maksimal dalam diri siswa. Berdasarkan konsep sembilan kondisi intruksional
Gagne maka kita bisa menyusun rancangan kegiatan belajar mengajar sebagai
berikut:
1. Memperoleh Perhatian
Kegiatan
ini merupakan proses guru dalam memberikan stimulus kepada siswa dengan cara
meyakinkan siswa bahwa mempelajari materi tersebut itu penting. Hal ini bisa
dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan ringan seputar materi yang akan
disajikan. Contoh : mengajak siswa berkenalan dengan bilangan dan mengetahui
lambang bilangan dengan cara memulai komunikasi dengan siswa. Guru menunjukkan
alat peraga berupa gambar-gambar lambang bilangan serta media-media yang
menarik agar siswa memfokuskan diri untuk memulai pelajaran.
2. Memberikan Informasi Tujuan
Pembelajaran
Dalam
hal ini guru harus mengupayakan untuk memberitahu siswa akan tujuan
pembelajaran. Sehingga siswa mengetahui tujuan dari materi pembelajaran yang
dipelajarinya. Ini sangat penting dilakukan agar siswa lebih termotivasi untuk
bisa mencapai tujuan pembelajaran.
Contoh:
guru memberikan informasi menarik bahwa pembelajaran kali ini kita akan belajar
mengenai operasi bilangan. Guru juga mengucapkan bahwa setelah pelajaran ini
siswa dapat berhitung, sehingga besok bisa menghitung jumlah barang yang ia
(siswa) miliki baik dari pemberian barang oleh orang lain ataupun barang yang
sebelumnya sudah ia miliki.
3. Merangsang siswa untuk mengingat
kembali apa yang telah dipelajari
Upaya
merangsang siswa dalam mengingat materi yang lalu bisa dilakukan dengan cara
bertanya tentang materi yang telah diajarkan.
Contoh:
guru menanyakan tentang nama bilangan yang guru tunjukkan. Dalam hal ini guru
sudah menyiapkan media berupa gambar lambang bilangan.
4. Menyajikan stimulus
Menyajikan
stimulus bisa dilakukan dengan cara guru menyajikan materi pembelajaran secara
menarik dan menantang. Sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti
pembelajaran yang sedang berlangsung.
Contoh:
guru membagi siswa kedalam 4 kelompok. Dalam pembagian kelompok ini guru juga
mengajak siswa untuk menghitung berapa jumlah teman dalam satu kelomponya. Pada
tiap-tiap kelompok, guru membagikan masing-masing 10 permen. Dalam hal ini
tentu siswa sudah bertanya-tanya, keadaan ini semakin dirangsang oleh guru
dengan mengatakan bahwa kegiatan kali ini adalah lomba menghitung. Aturan
mainnya tiap anggota kelompok bekerjasama menjawab pertanyaan guru mengenai
penjumlahan dan pengurangan yang guru lakukan menggunakan media benda. Apabila
kelompok tersebut salah maka kelompok tersebut wajib mensodaqohkan satu buah
permennya kepada kelompok lain.
5. Memberikan bimbingan kepada siswa
Seyogyanya guru harus membimbing siswa dalam
proses belajarnya. Sehingga siswa dapat terarah dalam pembelajarannya.
Contoh:
dalam proses penghitungan/pemberian soal yang diberikan oleh guru, siswa satu
kelompok diminta untuk menghitungnya sembari guru menunjukkan jumlah bilangan
tersebut.
6. Memancing Kinerja
Memantapkan
apa yang dipelajari dengan memberikan latihan-latihan untuk menerapkan apa yang
telah dipelajari itu.
Contoh:
guru memancing kinerja berupa mengajak berhitung siswa satu kelas tentang hasil
penghitungan yang dilakukan oleh kelompok lain.
7. Memberikan balikan
Memberikan
feedback atau balikan dengan memberitahukan kepada murid apakah hasil
belajarnya benar atau tidak.
Contoh:
guru menanyakan kepada siswa sudah benar atau belum. Hal ini juga semakin
memantapkan hasil penghitungan yang dilakukan oleh siswa.
8. Menilai hasil belajar
Menilai
hasil-belajar dengan memberikan kesempatan kepada murid untuk mengetahui apakah
ia telah benar menguasai bahan pelajaran itu dengan memberikan beberapa soal.
Contoh:
meminta siswa menulis hasil penjumlahan yang dilakukan dalam permainan tadi
menggunakan lambang bilangan yang benar.
9. Mengusahakan transfer
Mengusahakan
transfer dengan memberikan contoh-contoh tambahan untuk menggeneralisasi apa
yang telah dipelajari itu sehingga ia dapat menggunakannya dalam
situasi-situasi lain.
Contohnya:
ajak siswa memecahkan masalah yang diceritakan oleh guru sebelum pelajaran
selesai