Pembelajaran Kontekstual
Ketika
kita membicarakan tentang pendidikan, kita merasa bahwa kita sedang membicarakan
permasalahan yang kompleks dan sangat luas. Mulai dari masalah peserta didik,
pendidik/guru, manajemen pendidikan, kurikulum, fasilitas, proses belajar
mengajar, dan lain sebagainya. Salah satu masalah yang banyak dihadapi dalam
dunia pendidikan kita adalah lemahnya kualitas proses pembelajaran yang
dilaksanakan guru di sekolah. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas hanya
diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi. Otak anak dipaksa
untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami
informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan
sehari-hari. Akibatnya banyak peserta didik yang ketika lulus dari sekolah,
mereka pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikasi.
Dalam
Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional
berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.
Sesuai fungsi pendidikan
nasional tersebut terletak juga tanggung jawab guru untuk mampu mewujudkannya
melalui pelaksanaan proses pembelajaran yang bermutu dan berkualitas. Salah
satu strategi yang dapat dipergunakan guru untuk memperbaiki mutu dan kualitas
proses pembelajaran adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran Contextual
Teaching and Learning (CTL).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka
rumusan masalah dalam makalah ini yaitu: apa pengertian dari Contextual Teaching and Learning (CTL)?, apa karakteristik Pembelajaran Kontekstual?,
apa saja komponen Pembelajaran
Kontekstual?, mengapa perlu diterapkan pembelajaran kontekstual di
kelas?, bagaimana penerapan Pendekatan Kontekstual di kelas?
Berdasarkan rumusan
masalah di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini yaitu : siswa dapat menjelaskan pengertian pendekatan kontekstual,
siswa dapat menjelaskan karakteristik contextual Teaching
and Learning (CTL), siswa dapat menjelaskan komponen-komponen Contextual
Teaching and Learning (CTL), siswa dapat mengetahui alasan diterapkannya
pembelajaran kontekstual di kelas, siswa dapat lebih memahami penerapan
pendekatan kontekstual di kelas.
1.
PENGERTIAN
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Hakikat pembelajaran dengan
pendekatan kontekstual (Contextual
Teaching and Learning /CTL)
merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sehari-hari.
Dengan demikian, siswa dapat memiliki pengetahuan/keterampilan yang dinamis dan
fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. CTL disebut
pendekatan kontektual karena konsep belajar ini membantu guru mengaitkan antara
materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. Contextual teaching and learning
(CTL) memerlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa, dengan
harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka. Selain
itu, siswa belajar melalui proses mengalami bukan menghafal. Siswa mengingat
pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan
tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan pemikiran rasional
tersebut pengetahuan akan selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
2. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN
KONTEKSTUAL
Pembelajaran dengan
pendekatan kontekstual memiliki beberapa karakteristik diantaranya yaitu: kerjasama,
saling menunjang, menyenangkan (tidak membosankan), belajar dengan bergairah,
pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan
teman, siswa kritis guru kreatif, dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil
kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain, laporan kepada
orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum,
karangan siswa dan lain-lain.
Dalam pembelajaran kontekstual,
program pembelajaran merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru.
Rancangan tersebut berisi skenario tahap demi tahap tentang recana kegiatan
yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik pembelajaran.
Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan
tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic
assessmentnya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang
guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakan bersama
siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program
pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi,
perbedaan hanya ada pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih
menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional),
sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario
pembelajarannya. Berdasarkan hal tersebut, saran pokok dalam penyusunan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut: 1)
nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya (pernyataan kegiatan siswa yang
merupakan gabungan antara Standar Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok
dan Pencapaian Hasil Belajar), 2) nyatakan tujuan umum pembelajarannya, 3)
rincilah media untuk mendukung kegiatan itu, 4) buatlah skenario tahap demi
tahap kegiatan siswa, 5) nyatakan authentic assessmentnya, yaitu data yang
dapat digunakan untuk mengamati partisipasi siswa dalam pembelajaran.
3.
KOMPONEN-KOMPONEN
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Dalam
pembelajaran dengan pendekatan kontektual melibatkan tujuh
komponen utama pembelajaran
yakni : kontruktivisme (constructivism), bertanya
(questioning), menyelidiki (inquiry),
masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling),
refleksi (reflection), dan
penilaian autentik (authentic assessment). Makna dari kontruktivisme adalah
siswa mengkonstruksi/membangun pemahaman
mereka sendiri dari
pengalaman baru berdasar
pada pengetahuan awal melalui
proses interaksi sosial
dan asimilasi-akomodasi.
Implikasinya adalah pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan
menerima pengetahuan. Inti dari inquiry
atau menyelidiki adalah proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman.
Oleh karena itu dalam kegiatan ini siswa belajar menggunakan keterampilan
berpikir kritis. Bertanya atau
questioning dalam pembelajaran kontekstual dilakukan
baik oleh guru
maupun siswa. Guru bertanya dimaksudkan untuk mendorong, membimbing
dan menilai kemampuan berpikir siswa.
Sedangkan untuk siswa
bertanya merupakan bagian
penting dalam pembelajaran yang
berbasis inquiry. Masyarakat belajar
merupakan sekelompok orang (siswa)
yang terikat dalam
kegiatan belajar, tukar pengalaman, dan berbagi pengalaman.
Sesuai dengan teori kontruktivisme, siswa akan mendapat
kesempatan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui interaksi sosial dalam
masyarakat belajar. Oleh karena itu, bekerjasama dengan orang
lain lebih baik daripada belajar sendiri.
Pemodelan merupakan
proses menampilkan suatu
contoh agar orang
lain (siswa) dapat meniru, berlatih, menerapkan pada situasi lain, dan
mengembangkannya. Menurut Albert
Bandura, belajar dapat
dilakukan dengan cara pemodelan ini. Penilaian autentik dimaksudkan
untuk mengukur dan membuat keputusan tentang pengetahuan dan keterampilan siswa
yang autentik (senyatanya). Agar
dapat menilai senyatanya,
penilaian autentik dilakukan dengan
berbagai cara misalnya
penilaian produk, penilaian kinerja
(performance), portofolio, tugas
yang relevan dan kontekstual, penilaian diri, penilaian
sejawat dan sebagainya. Refleksi pada
prinsipnya adalah berpikir
tentang apa yang
telah dipikir atau
dipelajari, dengan kata lain
merupakan evaluasi dan introspeksi
terhadap kegiatan belajar yang telah ia
lakukan.
4.
ALASAN
DITERAPKANNYA PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran
kontekstual perlu diterapkan karena sebagian
besar waktu belajar
sehari-hari di sekolah
masih didominasi kegiatan penyampaian
pengetahuan oleh guru,
sementara siswa ”dipaksa” memperhatikan
dan menerimanya, sehingga
tidak menyenangkan dan memberdayakan siswa. Selain itu materi
pembelajaran bersifat abstrak-teoritis-akademis, tidak
terkait dengan masalah-masalah
yang dihadapi siswa
sehari-hari di lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar
dan dunia kerja. Alasan lain perlu diterapkannya pembelajaran kontekstual yaitu
penilaian hanya dilakukan
dengan tes yang
menekankan pengetahuan, tidak
menilai kualitas dan kemampuan belajar siswa
yang autentik pada situasi yang autentik, serta sumber belajar
masih terfokus pada guru
dan buku sehingga lingkungan sekitar
belum dimanfaatkan secara optimal.
Pembelajaran
dikatakan mengunakan pendekatan
kontekstual jika materi pembelajaran
tidak hanya tekstual
melainkan dikaitkan dengan kehidupan siswa di lingkungan keluarga,
masyarakat, alam sekitar,
dan dunia kerja.
Dengan melibatkan ketujuh komponen utama
tersebut pembelajaran menjadi lebih
bermakna bagi siswa. Model pembelajaran
apapun dapat dikatakan
menggunakan pendekatan
kontekstual sepanjang memenuhi persyaratan tersebut.
5. PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DI KELAS
Pembelajaran kontekstual dapat
diterapakan dalam kelas
besar maupun kelas kecil, namun
akan lebih mudah
jika diterapkan dalam kelas
kecil. Pembelajaran kontekstual
sangat sesuai jika diterapkan dalam
kurikulum berbasis kompetensi.
Dalam penerapannya, pembelajaran kontekstual
tidak memerlukan biaya besar
dan media khusus melainkan memanfaatkan berbagai sumber
dan media pembelajaran
yang ada di
lingkungan sekitar guru. Buku bukan
merupakan sumber dan media sentral dalam pembelajaran
kontekstual. Demikian pula guru tidak dipandang sebagai orang yang serba tahu,
sehingga guru tidak
perlu khawatir menghadapi berbagai pertanyaan siswa yang terkait dengan
lingkungan baik tradisional maupun modern. Dalam pembelajaran kontekstual,
tes hanya merupakan
sebagian dari teknik atau instrumen penelitian yang bermacam-macam seperti
wawancara, observasi, skala
sikap, penilaian kinerja, portofolio,
jurnal siswa, dan
sebagainya yang semuanya disinergikan untuk
menilai kemampuan siswa
yang sebenarnya (autentik). Penilainya bukan hanya oleh guru
saja tetapi juga diri sendiri, teman siswa, pihak lain (teknisi, bengkel,
tukang dsb.). Proses penilaian diusahakan berada pada situasi yang autetik
misal pada saat
diskusi, praktikum, wawancara
di bengkel, kegiatan belajar mengajar
di kelas, dan sebagainya. Beberapa
model pembelajaran yang
merupakan aplikasi
pembelajaran kontekstual antara
lain model pembelajaran
langsung (direct
instruction), pembelajaran kooperatif
(cooperatif learning), dan pembelajaran berbasis masalah ( problem
based learning).
Inti
dari model pembelajaran
langsung adalah guru mendemonstrasikan pengetahuan
atau keterampilan tertentu,
selanjutnya siswa dilatih selangkah demi selangkah. Rasional teoritik
yang melandasi model
ini adalah teori
pemodelan tingkah laku yang
dikembangkan oleh Albert
Bandura. Menurut Bandura, belajar dapat dilakukan melalui pemodelan
(mencontoh, meniru) perilaku dan pengalaman
orang lain. Sebagai
contoh, untuk dapat
mengukur panjang dengan jangka
sorong siswa dapat
belajar dengan menirukan cara yang dicontohkan oleh guru. Tujuan
utama yang dapat dicapai
melalui model pembelajaran
ini adalah penguasaan
pengetahuan prosedural (pengetahuan
bagaimana melakukan sesuatu misalnya
mengukur panjang dengan
jangka sorong, mengerjakan soal-soal
yang terkait dengan
hukum kekekalan energi,
dan menimbang benda dengan neraca Ohauss), dan atau pengetahuan
deklaratif (pengetahuan tentang sesuatu
misal nama-nama bagian jangka
sorong, pembagian skala nonius pada mikrometer sekrup, dan fungsi bagian-bagian neraca Ohauss),
serta keterampilan belajar
siswa, misalnya menggaris bawahi kata kunci,
menyusun jembatan keledai,
membuat peta konsep, dan membuat rangkuman.
Model
pembelajaran ini cenderung
berpusat pada guru,
sehingga sebagian besar siswa
cenderung bersikap pasif.
Oleh sebab itu, perencanaan dan
pelaksanaan hendaknya dilakukan dengan sangat hati-hati. Sistem pengelolaan pembelajaran
yang dilakukan oleh
guru harus menjamin
keterlibatan seluruh siswa khususnya dalam memperhatikan,
mendengarkan, dan resitasi (tanya jawab). Pengaturan lingkungan
mengacu pada tugas
dan memberi harapan
yang tinggi agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Inti
dari pembelajaran berbasis masalah adalah
guru menghadapkan siswa pada
situasi masalah kehidupan
nyata (autentik) dan
bermakna, memfasilitasi siswa untuk memecahkan masalah melalui
penyelidikan/inkuiri dan kerjasama, memfasilitasi dialog dari berbagai segi, merangsang
siswa untuk menghasilkan karya pemecahan dan peragaan hasil. Rasional teoritik
yang melandasi model ini adalah teori konstruktivisme Piaget dan
Vigotsky, serta teori
belajar penemuan dari Bruner.
Menurut teori konstruktivisme pengetahuan
tidak dapat ditransfer dari guru
ke siswa seperti
menuangkan air dalam
gelas, tetapi siswa mengkonstruksi sendiri
pengetahuannya melalui proses
intra-individual asimilasi
dan akomodasi (menurut
Piaget) dan proses
inter-individual atau sosial
(menurut Vigotsky). Menurut Bruner
belajar yang sebenarnya terjadi melalui penemuan, sehingga dalam proses pembelajaran
hendaknya banyak menciptakan peluang-peluang untuk aktivitas penemuan siswa.
Tujuan yang dapat
dikembangkan melalui model
pembelajaran ini adalah keterampilan
berfikir dan pemecahan
masalah, kinerja dalam menghadapi
situasi kehidupan nyata, membentuk pelajar yang otonom dan mandiri.
Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan
pada model pembelajaran berbasis masalah ini ditandai dengan adanya sifat
terbuka, proses demokrasi, dan peranan aktif siswa. Keseluruhan proses
diorientasikan untuk membantu siswa
menjadi mandiri, otonom,
percaya pada keterampilan intelektual sendiri melalui
keterlibatan aktif dalam
lingkungan yang berorientasi pada inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan
pendapat.
Inti
model pembelajaran kooperatif
adalah siswa belajar
dalam kelompok-kelompok kecil, yang
setiap anggotanya memiliki tingkat kemampuan yang
berbeda (heterogen). Dalam
memahami suatu bahan pelajaran dan
menyelesaikan tugas kelompok,
setiap anggota saling bekerjasama hingga seluruh anggota
menguasai bahan pelajaran
tersebut. Dalam variasinya ditemukan
banyak tipe pendekatan
pembelajaran kooperatif
misalnya STAD (Student
Teams Achievement Division),
Jigsaw, Investigasi
Kelompok, dan Pendekatan
Struktural, namun tidak
dikemukakan dalam materi diklat
ini. Rasional teoritik yang melandasi model ini adalah teori konstruktivisme
Vigotsky yang menekankan
pentingnya sosiokultural dalam
proses belajar seperti tersebut
di muka, dan teori pedagogik John Dewey
yang menyatakan bahwa kelas seharusnya
merupakan miniatur masyarakat
dan berfungsi sebagai laboratorium
untuk belajar kehidupan
nyata. Guru seharusnya
menciptakan suatu sistem
sosial yang bercirikan demokrasi
dan proses ilmiah di dalam lingkungan
belajar siswa. Tujuan yang dapat
dicapai melalui model pembelajaran ini adalah hasil belajar akademik yakni
penguasaan konsep-konsep sulit, yang lebih
mudah dipahami melalui kelompok kooperatif
karena adanya tutor teman sebaya,
yang mempunya orientasi
dan bahasa yang
sama. Disamping itu hasil
belajar keterampilan sosial
yang berupa keterampilan
koperatif (kerjasama dan kolaborasi)
juga dapat dikembangkan
melalui model pembelajaran ini.
Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan
pada model pembelajaran kooperatif
ini dicirikan oleh
proses demokrasi dan peran
aktif siswa dalam menentukan apa
yang harus dipelajari
dan bagaimana mempelajarinya. Dalam pengaturan
lingkungan diusahakan agar
materi pembelajaran yang lengkap
tersedia dan dapat
diakses setiap siswa,
serta guru menjauhi kesalahan tradisional yakni secara
ketat mengelola tingkah laku siswa dalam
kerja kelompok.
6. KESIMPULAN
·
Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan materi
pembelajaran dengan konteks dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari, sehingga
siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
·
Adapun karakteristiknya yaitu:
kerjasama, saling menunjang, menyenangkan (tidak membosankan), belajar dengan
bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif,
sharing dengan teman, siswa kritis guru kreatif, dinding dan lorong-lorong
penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan
lain-lain.
·
Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran
yakni : kontruktivisme, bertanya,
menyelidiki, masyarakat belajar,
pemodelan, refleksi, dan penilaian autentik.