Minggu, 17 April 2016

Pembelajaran Kontekstual
Ketika kita membicarakan tentang pendidikan, kita merasa bahwa kita sedang membicarakan permasalahan yang kompleks dan sangat luas. Mulai dari masalah peserta didik, pendidik/guru, manajemen pendidikan, kurikulum, fasilitas, proses belajar mengajar, dan lain sebagainya. Salah satu masalah yang banyak dihadapi dalam dunia pendidikan kita adalah lemahnya kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan guru di sekolah. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas hanya diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi. Otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya banyak peserta didik yang ketika lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikasi.
Dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sesuai fungsi pendidikan nasional tersebut terletak juga tanggung jawab guru untuk mampu mewujudkannya melalui pelaksanaan proses pembelajaran yang bermutu dan berkualitas. Salah satu strategi yang dapat dipergunakan guru untuk memperbaiki mutu dan kualitas proses pembelajaran adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini yaitu: apa pengertian dari Contextual Teaching and Learning (CTL)?, apa karakteristik Pembelajaran Kontekstual?, apa saja komponen Pembelajaran Kontekstual?, mengapa perlu diterapkan pembelajaran kontekstual di kelas?, bagaimana penerapan Pendekatan Kontekstual di kelas?
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini yaitu : siswa dapat menjelaskan pengertian pendekatan kontekstual, siswa dapat menjelaskan karakteristik contextual Teaching and Learning (CTL), siswa dapat menjelaskan komponen-komponen Contextual Teaching and Learning (CTL), siswa dapat mengetahui alasan diterapkannya pembelajaran kontekstual di kelas, siswa dapat lebih memahami penerapan pendekatan kontekstual di kelas.
1.      PENGERTIAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Hakikat  pembelajaran  dengan  pendekatan  kontekstual  (Contextual  Teaching  and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan  situasi  dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan  yang  dimilikinya  dengan  penerapannya  dalam  kehidupan  mereka   sehari-hari. Dengan demikian, siswa dapat memiliki pengetahuan/keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar ini membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. Contextual teaching and learning (CTL) memerlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa, dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka. Selain itu, siswa belajar melalui proses mengalami bukan menghafal. Siswa mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan pemikiran rasional tersebut pengetahuan akan selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

2.      KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual memiliki beberapa karakteristik diantaranya yaitu: kerjasama, saling menunjang, menyenangkan (tidak membosankan), belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis guru kreatif, dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain, laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain.
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru. Rancangan tersebut berisi skenario tahap demi tahap tentang recana kegiatan yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik pembelajaran. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmentnya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakan bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, perbedaan hanya ada pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya. Berdasarkan hal tersebut, saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut: 1) nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya (pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar), 2) nyatakan tujuan umum pembelajarannya, 3) rincilah media untuk mendukung kegiatan itu, 4) buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa, 5) nyatakan authentic assessmentnya, yaitu data yang dapat digunakan untuk mengamati partisipasi siswa dalam pembelajaran.
3.         KOMPONEN-KOMPONEN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Dalam pembelajaran dengan pendekatan kontektual melibatkan  tujuh  komponen  utama  pembelajaran  yakni  :  kontruktivisme (constructivism),  bertanya  (questioning),  menyelidiki  (inquiry),  masyarakat belajar (learning community), pemodelan  (modeling),  refleksi (reflection),  dan penilaian autentik (authentic assessment). Makna dari kontruktivisme adalah siswa mengkonstruksi/membangun pemahaman  mereka  sendiri  dari  pengalaman  baru  berdasar  pada pengetahuan  awal  melalui  proses  interaksi  sosial  dan  asimilasi-akomodasi. Implikasinya adalah pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan.  Inti dari inquiry atau menyelidiki adalah proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman. Oleh karena itu dalam kegiatan ini siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis.   Bertanya  atau  questioning  dalam  pembelajaran kontekstual  dilakukan  baik  oleh  guru  maupun  siswa.  Guru bertanya dimaksudkan untuk mendorong, membimbing dan  menilai kemampuan berpikir  siswa.  Sedangkan  untuk  siswa  bertanya  merupakan  bagian  penting dalam  pembelajaran  yang  berbasis  inquiry. Masyarakat  belajar  merupakan sekelompok  orang  (siswa)  yang  terikat  dalam  kegiatan  belajar,  tukar pengalaman, dan berbagi pengalaman. Sesuai dengan  teori kontruktivisme, siswa  akan mendapat  kesempatan  untuk  mengkonstruksi  pengetahuannya  sendiri melalui interaksi  sosial  dalam  masyarakat  belajar.  Oleh karena itu, bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri.
Pemodelan  merupakan  proses  menampilkan  suatu  contoh  agar  orang  lain (siswa) dapat meniru, berlatih, menerapkan pada situasi lain, dan mengembangkannya.  Menurut  Albert  Bandura,  belajar  dapat  dilakukan dengan cara pemodelan ini. Penilaian autentik dimaksudkan untuk mengukur dan membuat keputusan tentang pengetahuan dan keterampilan siswa yang autentik  (senyatanya).  Agar  dapat  menilai  senyatanya,  penilaian  autentik dilakukan  dengan  berbagai  cara  misalnya  penilaian  produk, penilaian  kinerja  (performance),  portofolio,  tugas  yang  relevan  dan kontekstual, penilaian diri, penilaian sejawat dan  sebagainya. Refleksi pada prinsipnya  adalah  berpikir  tentang  apa  yang  telah  dipikir  atau  dipelajari, dengan  kata  lain  merupakan  evaluasi  dan  introspeksi terhadap  kegiatan belajar yang telah ia lakukan.
4.      ALASAN DITERAPKANNYA PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
     Pembelajaran kontekstual perlu diterapkan karena sebagian  besar  waktu  belajar  sehari-hari  di  sekolah  masih  didominasi kegiatan  penyampaian  pengetahuan  oleh  guru,  sementara  siswa ”dipaksa”  memperhatikan  dan  menerimanya,  sehingga  tidak menyenangkan dan memberdayakan siswa. Selain itu  materi  pembelajaran  bersifat  abstrak-teoritis-akademis,  tidak  terkait dengan masalah-masalah  yang  dihadapi  siswa  sehari-hari  di  lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja. Alasan lain perlu diterapkannya pembelajaran kontekstual yaitu penilaian  hanya  dilakukan  dengan  tes  yang  menekankan  pengetahuan, tidak menilai kualitas dan kemampuan belajar siswa  yang autentik pada situasi yang autentik, serta sumber  belajar  masih  terfokus pada  guru  dan  buku sehingga lingkungan sekitar belum dimanfaatkan secara optimal.
Pembelajaran  dikatakan  mengunakan  pendekatan  kontekstual  jika materi  pembelajaran  tidak  hanya  tekstual  melainkan  dikaitkan  dengan kehidupan siswa di lingkungan keluarga, masyarakat,  alam  sekitar,  dan  dunia  kerja.  Dengan  melibatkan  ketujuh komponen  utama  tersebut pembelajaran  menjadi lebih bermakna bagi siswa.  Model  pembelajaran  apapun  dapat  dikatakan  menggunakan pendekatan  kontekstual sepanjang  memenuhi  persyaratan tersebut.
5.      PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DI KELAS
Pembelajaran  kontekstual  dapat  diterapakan  dalam  kelas  besar  maupun kelas  kecil, namun  akan  lebih  mudah  jika  diterapkan  dalam kelas  kecil.  Pembelajaran  kontekstual  sangat sesuai jika diterapkan dalam  kurikulum  berbasis kompetensi. Dalam  penerapannya, pembelajaran  kontekstual  tidak  memerlukan biaya  besar  dan  media  khusus melainkan  memanfaatkan berbagai  sumber  dan  media  pembelajaran  yang  ada  di  lingkungan  sekitar guru.  Buku bukan  merupakan  sumber  dan media sentral dalam pembelajaran kontekstual. Demikian pula guru tidak dipandang sebagai orang yang serba tahu, sehingga  guru  tidak  perlu  khawatir  menghadapi berbagai  pertanyaan siswa yang terkait dengan lingkungan baik tradisional maupun modern. Dalam pembelajaran kontekstual, tes  hanya  merupakan  sebagian  dari  teknik atau instrumen penelitian  yang bermacam-macam  seperti  wawancara,  observasi,  skala  sikap, penilaian  kinerja,  portofolio,  jurnal  siswa,  dan  sebagainya  yang  semuanya disinergikan  untuk  menilai  kemampuan  siswa   yang  sebenarnya  (autentik). Penilainya bukan hanya oleh guru saja tetapi juga diri sendiri, teman siswa, pihak lain (teknisi, bengkel, tukang dsb.). Proses penilaian diusahakan berada pada situasi yang  autetik  misal  pada  saat  diskusi,  praktikum,  wawancara  di  bengkel, kegiatan belajar mengajar di kelas, dan sebagainya. Beberapa  model  pembelajaran  yang  merupakan  aplikasi pembelajaran  kontekstual  antara  lain  model  pembelajaran  langsung  (direct instruction),  pembelajaran  kooperatif  (cooperatif  learning),  dan pembelajaran berbasis masalah ( problem based learning).


Inti  dari  model  pembelajaran  langsung  adalah  guru mendemonstrasikan  pengetahuan  atau  keterampilan  tertentu,  selanjutnya siswa dilatih selangkah demi selangkah. Rasional  teoritik  yang  melandasi  model  ini  adalah  teori  pemodelan tingkah  laku  yang  dikembangkan  oleh  Albert  Bandura. Menurut Bandura, belajar dapat dilakukan melalui pemodelan (mencontoh, meniru) perilaku dan pengalaman  orang  lain.   Sebagai  contoh,  untuk  dapat  mengukur  panjang dengan  jangka  sorong  siswa  dapat  belajar  dengan  menirukan cara yang dicontohkan oleh guru.  Tujuan  utama yang  dapat  dicapai  melalui  model  pembelajaran  ini  adalah  penguasaan  pengetahuan  prosedural  (pengetahuan  bagaimana melakukan  sesuatu  misalnya  mengukur  panjang  dengan  jangka  sorong, mengerjakan  soal-soal  yang  terkait  dengan  hukum  kekekalan  energi,  dan menimbang benda dengan neraca Ohauss), dan atau pengetahuan deklaratif (pengetahuan  tentang  sesuatu  misal  nama-nama  bagian jangka  sorong, pembagian skala nonius pada mikrometer sekrup, dan  fungsi bagian-bagian neraca  Ohauss),  serta  keterampilan  belajar  siswa,  misalnya   menggaris bawahi kata  kunci,  menyusun  jembatan  keledai,  membuat  peta konsep,  dan membuat rangkuman.
Model  pembelajaran  ini   cenderung  berpusat  pada  guru,  sehingga sebagian  besar  siswa  cenderung  bersikap  pasif.  Oleh sebab itu, perencanaan  dan pelaksanaan hendaknya dilakukan dengan sangat hati-hati. Sistem pengelolaan pembelajaran yang  dilakukan  oleh  guru  harus  menjamin  keterlibatan  seluruh  siswa khususnya dalam memperhatikan, mendengarkan, dan resitasi (tanya jawab). Pengaturan  lingkungan  mengacu  pada  tugas  dan  memberi  harapan  yang tinggi agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Inti  dari  pembelajaran  berbasis masalah  adalah  guru  menghadapkan siswa  pada  situasi  masalah  kehidupan  nyata  (autentik)  dan  bermakna, memfasilitasi siswa untuk memecahkan masalah melalui penyelidikan/inkuiri dan kerjasama, memfasilitasi dialog dari berbagai segi, merangsang siswa untuk menghasilkan karya pemecahan dan peragaan hasil. Rasional  teoritik  yang  melandasi  model  ini  adalah teori konstruktivisme Piaget  dan  Vigotsky,  serta  teori  belajar  penemuan  dari Bruner.  Menurut   teori  konstruktivisme  pengetahuan  tidak  dapat  ditransfer dari  guru  ke  siswa  seperti  menuangkan  air  dalam  gelas,  tetapi   siswa mengkonstruksi  sendiri  pengetahuannya  melalui  proses  intra-individual asimilasi  dan  akomodasi   (menurut  Piaget)  dan  proses  inter-individual  atau sosial (menurut Vigotsky).  Menurut Bruner belajar yang sebenarnya terjadi melalui penemuan, sehingga dalam proses pembelajaran hendaknya banyak menciptakan peluang-peluang untuk aktivitas penemuan siswa. Tujuan  yang  dapat  dikembangkan  melalui  model   pembelajaran  ini adalah  keterampilan  berfikir  dan  pemecahan  masalah, kinerja  dalam menghadapi situasi kehidupan nyata, membentuk pelajar yang otonom dan mandiri.
Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan pada model pembelajaran berbasis masalah ini ditandai dengan adanya sifat terbuka, proses demokrasi, dan peranan aktif siswa. Keseluruhan proses diorientasikan untuk membantu siswa  menjadi  mandiri,  otonom,  percaya  pada  keterampilan intelektual sendiri  melalui  keterlibatan  aktif  dalam  lingkungan yang  berorientasi  pada inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan pendapat.
Inti  model  pembelajaran  kooperatif  adalah  siswa  belajar  dalam kelompok-kelompok  kecil,  yang  setiap anggotanya  memiliki  tingkat kemampuan  yang  berbeda  (heterogen).  Dalam  memahami  suatu  bahan pelajaran  dan  menyelesaikan  tugas  kelompok,  setiap  anggota  saling bekerjasama hingga seluruh  anggota  menguasai  bahan  pelajaran  tersebut. Dalam  variasinya  ditemukan  banyak  tipe  pendekatan  pembelajaran  kooperatif misalnya  STAD  (Student  Teams  Achievement  Division),  Jigsaw,  Investigasi Kelompok,  dan  Pendekatan  Struktural,  namun  tidak  dikemukakan  dalam materi diklat ini. Rasional teoritik yang melandasi model ini adalah teori konstruktivisme Vigotsky  yang  menekankan  pentingnya   sosiokultural  dalam  proses  belajar seperti tersebut di muka, dan teori pedagogik John  Dewey yang menyatakan bahwa  kelas  seharusnya  merupakan  miniatur  masyarakat  dan  berfungsi sebagai  laboratorium  untuk  belajar  kehidupan  nyata. Guru  seharusnya menciptakan  suatu  sistem  sosial  yang bercirikan demokrasi dan proses ilmiah di  dalam  lingkungan  belajar siswa.  Tujuan yang dapat dicapai melalui model pembelajaran ini adalah hasil belajar akademik yakni penguasaan konsep-konsep sulit, yang lebih  mudah  dipahami  melalui kelompok  kooperatif  karena  adanya  tutor  teman sebaya,  yang  mempunya  orientasi  dan  bahasa  yang  sama.  Disamping  itu hasil  belajar  keterampilan  sosial  yang  berupa  keterampilan  koperatif (kerjasama  dan  kolaborasi)  juga  dapat  dikembangkan  melalui  model pembelajaran ini.
Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan pada model pembelajaran kooperatif  ini  dicirikan  oleh    proses  demokrasi  dan peran  aktif  siswa  dalam menentukan  apa  yang  harus  dipelajari  dan  bagaimana  mempelajarinya. Dalam  pengaturan  lingkungan  diusahakan  agar  materi  pembelajaran  yang lengkap  tersedia  dan  dapat  diakses  setiap  siswa,  serta  guru  menjauhi kesalahan tradisional yakni secara ketat mengelola  tingkah laku siswa dalam kerja kelompok.
6.      KESIMPULAN
·         Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan materi pembelajaran dengan konteks dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari, sehingga siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
·         Adapun  karakteristiknya yaitu: kerjasama, saling menunjang, menyenangkan (tidak membosankan), belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis guru kreatif, dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain.
·         Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran yakni : kontruktivisme,  bertanya, menyelidiki,  masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian autentik.